Rabu, 23 Mei 2012

Makanan Khas Bali

Makanan Khas Bali yang Tiada Duanya

OPINI | 02 March 2011 | 11:31 Dibaca: 6613 Komentar: 10 1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat
4 tahun kuliah dan tinggal di Jakarta cukup membuat saya cukup stress karena makanannya yang tidak begitu saya suka. Beberapa hari lalu untungnya saya berkesempatan ke Bandung untuk merasakan kuliner yang agak berbeda di simpang Dago. Namun saya tidak akan membicarakan kuliner Bandung di tulisan ini. Saya, mungkin bisa dibilang orang “ndeso” karena sedari kecil sudah biasa makanan rumah dan bukan makanan siap saji sejenis pizza, ayam sang jendral, maupun bento Jepang (Tahu sendirilah merknya). Khusus untuk bento jepang, saya bahkan heran karena beberapa teman saya sangat menyukai bento Jepang ini sehingga jika acara makan bareng selalu rumah makan bento Jepang ini yang disasar. Anggapan saya selalu sama terhadap bento Jepang ini, gak enak sama sekali karena rasanya hampir sebelas duabelas dengan nugget yang bisa dibeli di Supermarket.
Jika makan di warteg (rumah makan sejuta umat di Jakarta), walaupun murah tetapi tetap saja saya tidak bisa merasakan citarasa yang saya inginkan. Hampir seluruh lauk yang disajikan berasa manis mulai dari udang, tempe, cumi, aaargh semua terasa manis dan tidak cocok dengan lidah “Bali” saya yang sudah terbiasa suka pedas. Nasi Padang bisa sedikit mengobati rasa kangen saya terhadap rasa “pedas” masakan Bali.
Berbicara tentang masakan Bali, Orang lebih mengenal Betutu yaitu masakan khas Bali yang terbuat dari Ayam dengan taburan bumbu pedas. Atau bagi yang boleh memakan Babi, nasi be guling sudah tidak asing lagi jika berkunjung ke Bali karena ini adalah andalan masakan Bali sehingga jika anda main ke Bali pasti menemui warung makan be guling yang begitu banyaknya sehingga anda akan kebingungan dalam memilih warung yang memiliki masakan nasi be guling yang anda rasa enak. Mumpung sedang ngomongin makanan, saya ingin memberitahu saja 4 jenis makanan Bali yang mungkin terlewatkan karena tidak terlalu terkenal namun jangan meremehkan kenikmatannya.
Sambel dan Jukut Undis
Saya tidak tahu apakah di daerah selain Bali mengenal sayuran bernama “Undis”, yang pasti sayuran mirip kacang polong ini sangat popular di Bali. Biasanya “Undis” dibuat dengan cara direbus dengan berbagai rempah menjadi sayur undis kuah dengan kuah yang tentunya berwarna kehitam-hitaman namun kuah inilah yang saya sangat idolakan karena aroma dan tentu rasanya. Selain itu undis bisa dibuat sambal tentunya dengan sebutan sambal undis. Yang saya sempat amati campurannya adalah cabe, terasi, undis yang masih muda (bijinya berwarna hijau), beserta beberapa rempah lainnya. Rasanya? Wow, saya bisa 4 kali makan hanya dengan menyantap sambal undis ditemani sayur undis berkuah, berbeda dengan makan bento Jepang yang sekali saja saya gak akan mau nambah lagi (kapok uang dan kapok rasa). Sayang, ketika saya berlibur di Bali, undis muda jarang ditemukan sehingga hilang juga asa saya untuk menyantap sambal undis kesukaan saya.
Sudang
Memang namanya terasa asing di telinga tapi sebenarnya yang dimaksud dengan sudang adalah ikan yang diiris tipis lalu diasinkan. Sensasinya adalah ketika sudang digoreng lalu ditemani sambal lalah (pedas) ala Bali, waw, renyahnya menandingi ayam sang jendral. Sudang adalah salah satu makanan Khas Bali yang sepengetahuan saya berasal dari Buleleng (daerah asal saya). Sama ganasnya seperti makan undis, ketika ditemani makan oleh sudang dan sambal lalah, saya bisa menghabiskan 4 sudang dalam sekali makan sampai-sampai Ibu saya kadang memarahi saya karena hanya menyisakan sedikit untuk bapak dan 2 adik saya. Ada kesukaan saya yang kata ibu membuat saya mungkin jadi orang kaya yaitu makan sudang ditemani sambal minyak(campuran minyak, garam, plus cabe). Ya memang, kalau itu saja yang saya makan tiap hari di Jakarta, uang yang ditabung akan sangat banyak mengingat dengan 1 ayam jendral saya bisa menukarnya dengan beberapa sudang, hahaha.

0 komentar:

Posting Komentar